Kamis, 28 Juli 2016

Antara Cinta, Sahabat dan Narkoba

                Pagi itu, dengan langkah sedikit ragu anak perempuan itu berjalan memasuki gerbang sekolah, terlihat dari matanya, dia sangat kebingungan karena memang ini hari pertamanya masuk sekolah, dia adalah anak pindahan, namanya Azizah, terlihat cantik dan anggun dengan jilbab yang membalut kepalanya dan rok panjang abu abu yang menandakan dia adalah siswi sma tempatnya kelas 2 sma.
Azizah menyusuri lorong sekolah dengan sedikit gugup karena semua siswa disana menatapnya, dia tidak sadar semua anak mengagumi kecantikannya itu, seketika itulah langkahnya terhenti, beberapa anak perempuan kelas 3 menghadangnya, dengan mata yang indah itu Azizah memandang ke arah mereka berlima menandakan dia ingin lewat, tapi tidak tampak ada keinginan memberi jalan untuk Azizah, dengan sengaja salah satu dari mereka menumpahkan jus ke baju Azizah, Azizah kaget dan melangkah mundur seraya menyadari bahwa mereka berniat membully dirinya.
“Uhhh, tumpah nih.” Ejek salah satu siswi
“Lo siapa ya? Kok gue baru lihat.” Timpal siswi lain
“Mungkin penjaga kantin baru kali.”
“Maaf saya mau lewat, permisi.” Pinta Azizah sopan
“Ehh ehh ehh, mau kemana lo, disini aja dulu.” 

Mereka berlima tertawa puas melihat Azizah panik dan kebingungan. Seketika kepanikan Azizah mereda ketika melihat beberapa siswa datang menghampirinya, tapi ternyata mereka akan menambah apa yang dilakukan siswi tadi, terlihat salah satu anak membawa botol  hijau yang terlihat menjijikan, ketakutan Azizah semakin menjadi ketika anak itu membuka botol dan mengeluarkan bau yang menyangat, Azizah berusaha lari tetapi sudah dipegangi senior seniornya, terlihat matanya yang indah itu mulai berlinang menandakan permohonan belas kasihan mereka, bahkan semua siswa yang melihat itu tidak ada yang menolong bahkan ada yang tertawa. Akhirnya cairan bau itu ditumpahkan keatas kepala Azizah, seketika itupula air mata mengalir melalui pipinya. Para senior itupun tertawa.
Dari arah Azizah datang terlihat seorang siswa berjalan ke arah kerumunan itu, kebetulan atau tidak dia juga siswa baru karena terlihat bajunya yang polos tanpa bet.
“Ada mangsa baru nih.” Kata siswa senior
“Wah cocok nih yang satu cewe yang satu cowo.” Cetus siswi senior
Siswa baru itu berjalan santai menuju blokade senior yang siap membullynya. Langkahnya terhenti ketika seorang senior menghadangnya.
“Eh buru buru amat, mau kemana?”
“Bukan urusan kalian.” Ujar siswa baru itu
“Wah songong banget nih anak.”
“Eh, lo jangan sok disini, disini gue dan temen temen gue yang berkuasa.” Kata siswa senior sambil memegangi baju siswa baru itu.
“kalo kamu enggak singkirin tangan kamu dalam 5 detik kamu akan...”
“Akan apa haaa!!!” Tantang si senior

Lima detik pun lewat, akhirnya siswa baru itu membanting si senior ke tanah, tanpa menunggu perintah empat temannya langsung mengeroyok si siswa baru, tak lama kemudian keempatnya terkapar di lantai, semua siswa menyaksikan kejadian itu kaget karena baru kali ini ada yang berani sama mereka bersepuluh. Anak baru itu berjalan menghampiri Azizah yang masih dipegangi oleh siswi senior dan menggandengnya meninggalkan kerumunan, terlihat mata Azizah berbinar melihat wajah tampan yang baru menyelamatkannya. Terasa ada keanehan dalam dirinya, hatinya terasa berdebar ketika dekat dengan anak itu. Di dalam hatinya, dia bertanya tanya apakah ini yang dinamakan cinta.
Akhir dari cerita pagi ini, setelah Azizah membersihkan badan, dia masuk ke kelas yang sama dengan anak baru yang tadi menyelamatkannya, ketika melihatnya hati Azizah kembali berdebar debar, kini dia tau nama anak itu,  Arthur, begitulah dia dipanggil.
Singkat cerita, Azizah berteman dengan Aisyah dan Hera,teman sekelasnya, mereka berdua menceritakan keanehan sekolah yang dianggap elite tersebut, sekolah itu dikuasai 2 geng yang tadi membully Azizah, mereka adalah Revina and the girls dan Rehan and the boys. Mereka anak anak pemilik saham di sekolah ini, jadi para guru pun tak ada yang berani dengan mereka walau hanya menegur.
Hal itu membuat Azizah prihatin karena pembullyan di sekolah itu sangat nyata, bahkan di kelasnya ini yang dianggap diunggulkan pun ada yang menjadi bahan bullying. Namanya Wahyu berambut keriting dan berkacamata bundar, semua anak di kelas itu menjahuinya, terkecuali Arthur yang dengan senang hati duduk disebelahnya, Azizah semakin yakin bahwa Arthurlah orang yang dia tunggu selama ini.
Lain cerita berita geng the boys dipermalukan anak baru menyebar cepat, nama Arthur pun dikenal banyak senior bahkan juniornya. 1 minggu berlalu, Azizah merasakan suasana senioritas dan pembullyan yang sangat mengganggunya, tetapi itu tidak memudarkan semangat sekolahnya karena dia benar benar jatuh cinta, meskipun Arthur cuek setengah mati, meski begitu mereka semakin dekat, terutama dari tiga hari yang lalu ketika Azizah dibully tujuh siswa senior, Azizah yang terlihat cantik dengan jilbabnya itu memang menjadi idola baru di sekolah jadi banyak siswa yang menggodanya meski sedikit keterlaluan. Hari itu Arthur terlibat perkelahian dengan tujuh siswa untuk menyelamatkan Azizah, meski begitu mereka bukanlah tandingan Arthur.
Berita tersebar begitu cepat, Arthur pun menjadi idola bagi siswi siswi sekolah. Semua berusaha mendekatinya karena pribadinya yang cuek dan kalem serta wajah yang keren menjadi daya tariknya. Sore itu Arthur sedang berjalan jalan di taman dengan Azizah, mereka menjadi teman dekat.
“Makasih ya udah nyelametin aku dua kali.”
“Hmm”
“Kamu sekarang populer lo Arthur, gimana sih rasanya?”
“Biasa aja.”

Meskipun Arthur acuh tapi mereka terlihat sebagai pasangan yang cocok, beberapa hari hubungan mereka semakin dekat layaknya sepasang kekasih, namun hal itu tidak berlangsung lama. Suatu siang Azizah bertemu Aisyah di sebuah restoran dan Aisyah menyatakan sesuatu yang membuat hidup Azizah berubah.
“Azizah, salah enggak kalau aku suka Arthur?”
Kalimat itu sontak jadi petir di hati Azizah, dengan wajah pucat dan senyum yang terpaksa karena yang ada di depannya adalah sahabatnya, dia tidak ingin menyakiti sahabatnya sendiri.
“Kamu sakit Azizah?” Tanya Aisyah
‘Enggak kok, gini ya Aisyah semua orang berhak menyukai seseorang, jadi kamu gak perlu ragu, kejar deh cinta kamu.” Azizah memberi semangat
“Makasih ya, kamu emang sahabtku.”

Malam harinya Azizah menerima pesan dari Hera dan pesan itu berisi pengakuan Hera yang menyukai Arthur dan meminta bantuan Azizah untuk mendekatkan dirinya pada Arthur. Hal itu membuat Azizah bingung dan sedih mengetahui kedua sahabatnya menyukai orang yang disukainya.
Disisi lain hari Arthur di panggil ke ruang BP, didalam sangat tertutup dan guru mengungkit masalah Arthur dengan tujuh anak kelas 3 yang dia pukuli. Awalnya Arthur merasa akan dihukum, akan tetapi dia dijadikan agen oleh guru untuk menghentikan kasus bullying di sekolah itu karena Arthur tidak takut pada senior seniornya, Arthur pun menyetujuinya dengan syarat dia lakukan itu dengan caranya sendiri.
                Malam harinya, Arthur menatap langit yang tampak gelap tanpa cahaya bintang atau bulan, disinilah tempat dia biasa merenung memikirkan masalahnya. Bukan di rumah tapi di atap gedung tinggi di depan sekolahnya. Dia tidak mengatakan tempat tinggalnya pada siapapun, setiap pulang sekolah Arthur selalu masuk ke gedung ini, entah apa yang dilakukannya.
                Sepertinya Arthur harus memulai dari yang terkecil, yaitu dari kelasnya sendiri. Esok harinya Arthur ingin sedikit memahami apa yang dirasakan Wahyu teman satu bangkunya yang sering dibully. Dia sangat pendiam dan berbicara seperlunya, minder dan takut keluar kelas, setiap hari Wahyu terus duduk merenung, bahkan prestasinya terus menurun.
                Kejadian hari ini adalah pelajaran kosong pada jam terakhir, semua siswa tampak bosan. Seorang siswa merobek selembar kertas dari bukunya dan meremasnya kemudian melemparnya pada Wahyu, seketika itu pula hampir seluruh anak melakukan hal yang sama, meski diperlakukan begitu Wahyu tidak melawan, dia sudah biasa dibegitukan. Tiba tiba teriakan keras menyuruh berhenti dari arah pintu terdengar, semua langsung terdiam karena yang berteriak adalah Arthur yang biasanya diam dan acuh.
                “KENAPA KALIAN SEMUA LAKUKAN ITU?! Bukankan dia juga teman kalian? Kenapa kalian tidak melihat kearah matanya, dia sudah tertekan selama ini,  apa kalian tidak kasihan atau merasa bersalah, jika kalian tidak ingin berteman dengannya setidaknya jangan menyiksanya.” Bela Arthur
                Semua terdiam dan tertunduk seolah menyadari kesalahan mereka, Wahyu sontak kaget karena ada yang membelanya, selama ini tidak ada yang membelanya. Akhirnya bel pulang berbunyi, semua siswa meninggalkan kelas terkecuali Arthur dan Wahyu, setelah beberapa pendekatan akhirnya Wahyu mau bercerita pada Arthur, dia bercerita bahwa dia sudah mendapat perlakuan itu sejak smp bahkan bukan hanya di sekolah di rumahpun dia tidak dianggap oleh keluarganya, kakak perempuannya yang cantik dan pintar membuat orang tuanya pilih kasih. Tidak ada orang di dunia ini yang memperdulikannya. Tapi hari ini seseorang memperhatikannya, Arthur membelanya dan sejak detik itu mereka menjadi teman yang belum pernah didapatkan Wahyu selama ini.
                Jam menunjukan pukul 3, Wahyu sudah bercerita selama 15 menit, merekapun berjalan keluar hingga di suatu kelas mereka di cegat oleh geng the boys. Tampaknya Wahyu tidak hanya di bully di teman sekelas namun juga seniornya. Arthur langsung bertindak dan terjadilah perkelahian 1 lawan 5 orang. Tidak seperti sebelumnya hari ini Arthur tampak sadis hingga 5 orang lawanya babak belur dan 3 orang tidak sadarkan diri. Kejadian ini membuat satu ambulan dan satu mobil polisi didatangkan ke sekolah, tidak banyak orang ada di sekolah. Wahyu dan Arthur pun dibawa ke kantor polisi sementara the boys dibawa ke rumah sakit.
                Dilain tempat Azizah mendapat kabar bahwa Arthur dibawa polisi langsung menuju kantor polisi tentu saja Aisya dan Hera ikut, Azizah sangat tergesa gesa ketika mengemudi, terlihat jelas wajah paniknya, Azizah adalah orang yang paling khawatir dengan keadaan Arthur. Sampai disana terlihat Arthur duduk sendiri di ruang tunggu karena Wahyu sudah boleh pulang, mereka pun menghampiri Arthur dan bertanya apa yang terjadi. Setelah menceritakan kejadian sebenarnya datanglah seorang pria berjas yang misterius yang masuk ke ruang polisi. Setelah beberapa menit orang misterius keluar, dia mengajak bicara Arthur empat mata lalu meningalkan Arthur, orang itu benar benar misterius.
                “Eh siapa sih tuh?” Tanya Hera
                “Ayah kamu ya?” Sambung Aisya
                “Bukan.”
               
Azizah hanya bingung tanpa berkata apa apa. Arthur pun diizinkan pulang tanpa hukuman, Azizah pun memberi tumpangan untuk Arthur. Beberapa menit berkendara yang dihiasi sunyi, tiba tiba Arthur meminta diturunkan di sisi jalan, Azizah dan dua temannya kebingungan, akhirnya mereka berhenti di jalan yang gelap. Setelah mengucap terimakasih, Arthur menghilang dalam gelap. Di dalam mobil yang tadi sunyi sekarang jadi ramai karena ocehan Hera dan Aisyah.
                “Arthur itu keren banget ya, udah kece, pinter, jago berantem lagi.” Cetus Hera
                “Iya ya, ada aja aku punya cowo kaya dia.” Lanjut Aisya
               
Azizah hanya termenung mendengar kedua sahabatnya yang menyanjung Arthur, baginya Arthur adalah cinta pertama karena Azizah belum pernah jatuh cinta sebelum ini. Akhirnya semua orang sudah kembali ke rumah, di kamarnya Azizah menghubungi Arthur untuk menanyakan kabar, tanpa dirasa mereka sudah bicara panjang lebar selama 1 jam. Arthur pun menutup pembicaraan dengan alasan sudah malam dengan mengatakan selamat tidur. Hati Azizah pun berbunga bunga, wajahnya yang cantik semakin cantik karena dihias senyum yang beberapa hari ini tidak nampak di wajahnya.
                Dilain kamar, Hera merencanakan untuk menembak Arthut besok sore setelah sekolah, dia membuat surat yang berisi ajakan bertemu di taman, tak lupa Hera memberitahu rencananya ini ke Azizah, sontak hati Azizah yang tadi berbunga kini kembali sedih dengan senyum palsunya dia memberi semangat ke Hera seolah mendukung Hera padahal di dalam hatinya merasa sangat sakit.
                Esok harinya Hera melaksanakan niatnya dengan menaruh sepucuk surat di meja Arthur, pada saat itu Arthur sedang di ruang BK dan mendapat laporan bahwa tingkat bullying di sekolah sudah menurun drastis karena insiden geng the boys. Bagi Azizah waktu berjalan sangat cepat hari ini, dia memendam sesak yang mendalam terlebih dia baru saja menerima pesan dari Hera untuk datang ke taman sekolah sekarang, dengan berat hati Azizah melangkah perlahan keluar kelas menuju taman.
                Di taman sudah ada beberapa siswa dan tentu saja Hera yang sedang gugup, datanglah Aisyah yang tidak tau apa apa bertanya pada Azizah apa yang terjadi, sebelum pertanyaan itu sempat terjawab orang yang ditunggu akhirnya datang. Arthur sedikit kebingungan ketika melihat ada Hera disana.
               
“Akhirnya lo dateng juga.”
                “Jadi yang kirim surat itu kamu?”
                “Ya, disini gue mau ungkapin perasaan gue, gue..gue sayang sama lo Arthur.”
                Dan setelah kata itu terucap Aisyah langsung menangis dan pergi meninggalkan taman, tampak muka Hera kaget. Hera tetap meminta jawaban dari Arthur tanpa peduli Aisyah, akhirnya dia mendapat jawaban yang sangat pahit.
                “Maaf Hera, udah ada seseorang di hati aku, kita temenan aja deh.”
                Sontak Hera dan Azizah kaget, Hera segera menatap Azizah dengan tajam seraya menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
                “Aku kecewa sama kamu Azizah!” Kata yang terlontar dari Hera
               
Seketika Hera pergi dengan berlari sambil meneteskan air matanya. Azizah hanya bisa diam dan matanya mulai berbinar, Dia duduk di bangku taman itu sambil menangis, semua orang sudah pergi kecuali Arthur yang masih berdiri disana. Arthur duduk disamping Azizah sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi Azizah.
               

“Kenapa kamu menangis?”
                “Aku sudah melukai kedua sahabatku. Kenapa kamu harus katakan itu?”
“Katakan apa? Aku memang punya orang yang spesial yang jauh disana, memang sih sebelum aku pergi, kami sempat bertengkar hebat, tapi suatu saat nanti aku akan kembali padanya.”

Seketika itu pula Azizah menyadari kalau ini semua hanya salah paham dan dia segera berlari untuk mencari Hera, namun Hera tetap marah tanpa mau nendengarkan penjelasan Azizah. Mereka sudah tidak berbicara berminggu minggu, dan beberapa hari ini ada kabar kalau Hera masuk geng the girls. Mereka aktif membully, mungkin karena saat ini Arthur jarang masuk sekolah dan menghilang, kinerja Arthur juga mulai dipertanyakan para guru. Sementara itu Aisya memendam amarah dan kecewa pada kedua sahabatnya terutama pada Azizah, sedangkan Azizah sendiri kini menjadi target pembullyan the girls, sudah banyak pelecehan yang diterimannya beberapa hari ini, juga dengan Wahyu dia yang malah lebih buruk lagi, tak ada yang membelanya hingga dia rentan sekali menjadi korban bullying.
                Beberapa hari belakangan ini Azizah selalu di hantui ketakutan pada the girls, mungkin inilah pembullyan paling buruk bagi Azizah, meskipun masih pagi Azizah ingin ke toilet, setelah menutup pintu toilet Azizah mendengar suara dari luar, dia sudah familiar dengan suara itu, Azizah mengira akan terjadi sesuatu yang buruk padanya, tetapi suara itu perlahan menjauh, sepertinya dia aman untuk kali ini. Azizah membuka pintu toilet dan ternyata terkunci, dia sadar itu ulah the girls. Meski sudah berteriak hingga lemas, tidak ada yang datang menolongnya.
                Dilain tempat beda pembully beda penyiksaan, kata yang cocok untuk menggambarkan kejadian yang menimpa Wahyu. Meski sudah menunggu sampai sore, dia tetap bertemu geng the boys, Wahyu dibawa ke kelas yang sudah kosong, karena Wahyu berusaha melawan, dia dihajar sampai babak belur oleh the boys dan ditingal begitu saja.
                Wahyu pun pulang jam 7 malam dengan luka lebam di sekujur tubuhnya, sampai dirumah dia malah dimarahi ayahnya karena pulang telat dan dituduh ikut tawuran, ayah Wahyu tidak mau mendengar penjelasan Wahyu dan akhirnya Wahyu diusir dari rumah, hari ini adalah hari yang kelam bagi Wahyu.
                Pagi harinya Azizah ditemukan tak sadarkan diri di toilet, kegiatan belajar dihentikan, ambulan dan polisi dipanggil, akhirnya Azizah dibawa ke ke rumah sakit dan the girls sebagai tersangka dibawa ke kantor polisi. Tiga hari kemudian semua anggota the girls pindah karena malu terkecuali Hera yang memang tidak terlibat kasus itu.
                Beberapa hari setelah kejadian itu, berita buruk kembali melanda sekolah, Rehan si pimpinan the boys ditemukan tergeletak dirumahnya dan terdapat luka tusukan pisau di perutnya,  nyawanya masih bisa ditolong meski sedang kritis dan mengalami koma, kasus tetap dilanjutkan, tersangka utama adalah Wahyu, dia di panggil ke ruang BK, disana dia di interogasi dan ayahnya juga datang memaki makinya sebagai nanak tak berguna.
                “Apa benar kamu yang melakukannya? Jawab yang jujur.” Bentak pak Ali
                “Bukan saya pak.”
                “Lalu kenapa ditemukan pisau di tas kamu ha??” Pak Ali semakin membentak
                “Ayah kecewa sama kamu Wahyu”
                “Cepat akui saja Wahyu!! Biar urusan ini segera selesai.”
                Wahyu pun berdiri dan ikut membentak.
                “KENAPA BAPAK MEMOJOKAN SAYA TERUS, APA KARENA DIA ANAK PEMILIK SEKOLAH??!!!”
                Tiba tiba tamparan mendarat di pipi Wahyu, ayahnyalah yang menamparnya.
                “SIAPA YANG MENGAJARKAN KAMU BERBICARA SEPERTI ITU??!” Bentak ayah
                “Kenapa kalian sangat membenciku? Apa salahku pada kalian?” Kata Whyu sambil tertunduk
               
Wahyu pun segera meninggalkan ruangan dengan berlari, beberapa saat kemudian Wahyu terlihat berdiri diatas atap lantai 3, semua siswa langsung melihatnya dari bawah termasuk ayah ibu dan kakak Wahyu. Wahyu memejamkan matanya dan tersenyum sinis.
               
“kalau begini saja banyak yang memperhatikan, APA INI YANG KALIAN MAU?”
                “Kenapa kalian semua begitu membenciku? Salah apa aku? Semenyebalkan itukah aku sampai kalian selalu menindasku, apakah setelah aku tidak ada kalian akan menjadi lebih bahagia? Aku hanya ingin kehidupan seperti orang lain, apakah itu hal yang mustahil?”
                “Aku hanya ingin minta maaf pada kalian. Teman sekelasku, maaf bila aku menyebalkan, maaf bila aku membuat suasana kelas menjadi buruk, bukan maksudku seperti itu. Untuk bapak ibu guru, pak bu maaf saya sudah menjadi siswa yang buruk, selalu membuat masalah, saya hanya ingin kalian menerimaku sebagai siswa, terimakasih untuk semua jasa kalian selama ini dan soal pisau, itu pisau untuk motong buah pak, saya sekarang magang jadi tukang buah, saya gak tau harus gimana setelah diusir ayah saya. Untuk ayah ibu yang saya cintai, maaf Wahyu sudah jadi anak bandel, anak yang tidak bisa membangkan orang tua, hanya satu permintaan Wahyu, anggaplah Wahyu sebagai anak kalian, Wahyu sudah sangat bahagia, meski itu tidak mungkin, Wahyu tetap sayang ayah dan ibu, terimakasih. Dan untuk kakak, kak maaf adek udah jadi adek bandel yang suka ganggu kakak, adek hanya ingin kakak mau bicara sama adek, adek sayang kok sama kakak meski kakak gak angep adek ada, adek sayang kak. Selamat tinggal semuannya.”
               
Terhias senyum di wajah Wahyu yang dipadu aliran air matanya, begitu juga semua orang yang ada di bawah, terutama keluarga Wahyu yang sadar akan kesalahan mereka pada Wahyu.
                Setelah Wahyu siap terjun, tiba tiba datanglah Arthur yang mencegahnya, saat pandangan Wahyu teralih ke Arthur, dibawah sudah bersiap pemadam kebakaran dengan trampolin untuk menangkap Wahyu, ketika Wahyu lengah Arthur berlari kearahnya, mereka berdua terjun dari lantai 3 tepat ke atas trampolin tadi, sial bagi Arthur yang harus terlempar dari trampolin dan lengannya patah sedangkan Wahyu tidak sadarkan diri karena dibius Arthur saat jatuh tadi. Mereka dibawa ke rumah sakit yang sama.
                Azizah, Aisyah dan Hera langsung berangkat ke rumah sakit menjenguk Arthur. Mereka berlari merewati lorong rumah sakit, di sana ternyata ada Wahyu yang menghadang mereka,
                “Kalian tidak boleh masuk sebelum berbaikan satu sama lain, itu pesan Wahyu tadi.”
                Setelah saling bertatapan, mereka mengakui kesalahan masing masing dan saling meminta maaf.
                “Maafin gue ya Zizah, gue udah jahat banget sama lo”
                “Iya maafin aku juga ya, aku udah salah benci sama sahabat aku sendiri.” Kata Aisya
                “Iya, aku juga minta maaf kalau ada salah sama kalian, sebenarnya seseorang yang dimaksud Arthur itu bukan aku.”
               
Mereka pun saling berpelukan dan masuk ke ruangan Arthur dirawat, terhias senyum dari mereka ber 3 dan juga Wahyu yang merasakan hangatnya pertemanan.
               
“Mereka udah baikan?” Tanya Arthur yang masih terbaring.
                “Tanya aja ama mereka.”
                “Udah kok Arthur.” Jawab mereka serentak
               
Akhir bahagia bagi mereka ber 5, karena mereka menjadi sahabat bukan lewat kata tapi lewat pengalaman. Tidak lama kemudian seluruh teman kelas Arthur datang membesuknya. Satu hal yang aneh, dimana keluarga Arthur.
                Beberapa minggu kemudian sekolah sudah damai tanpa Ada pembullyan lagi. Tapi tampaknya Arthur akhir akhir ini sering pulang larut malam dan jarang kumpul bareng keempat sahabatnya.
                Disisi Arthur dia sudah mendapat kabar kalau waktunya sudah tidak lama lagi, dia harus segera menyelesaikan tugasnya. Malam harinya persiapan sudah dilakukan Arthur, informasi sudah didapat, rencana sudah disusun, jam menunjukan pukul 12 malam. Arthur berangkat keluar gedung menuju sekolahnya, dengan jaket tebal, masker tengkorak dan tas besar, apa yang akan dilakukan Arthur. Bukannya lewat gerbang, Arthur malah lewat belakang dan masuk secara diam diam ke sekolah. Apa yang akan di lakukan Arthur di sekolah larut malam begini.
                Arthur membuka tasnya yang berisi sub-machine-gun MP5 dengan segala aksesoris yang terpasang, bebrapa magasin dan sebuah pistol. Apa yang akan dia lakukan dengan senjata itu. Arthur masuk ke sebuah gudang besar di belakang sekolah yang dianggap berhantu dan tidak pernah dibuka apalagi dipakai.
                Setelah berhasil masuk secara diam diam, Arthur menyelidiki setiap bagian gudang, tetapi tidak menemukan apapun. Terdengar suara di luar menuju arah gudang, segeralah Arthur mematikan senter lalu bersembunyi. Dua orang membuka pintu gudang, mereka masuk sambil berbincang tentang pengiriman narkoba, Arthur yang seketika mengenali suara itu, tetapi dia harus menunggu, tak lama kemudian salah satu orang menyalakan lampu dan yang lain membuka pintu rahasia, Arthur langsung bertindak dengan mencoba melumpuhkan mereka ber 2. Sedikit perkelahian terjadi dan akhirnya satu orang pingsan dan di ikat sambil terbaring di tanah dan yang satunya masih sadar dan di ikat di kursi sebagai bahan interogasi. Ternyata mereka adalah pak Imam dan Pak Ali, guru sma itu. Setelah merasa keadaan aman, Arthur melanjutkan penyelidikan kedalam ruang rahasia, beberapa puluh meter dari pintu rahasia terdapatgudang penyimpanan barang barang yang membuat Arthur kaget. Timbunan narkoba beberapa ratus kilo dan puluhan senjata api jenis senapan serbu. Akhirnya  Arthur pun mengambil gambar barang bukti dan menghubungi kepala polisi kota itu. Sebelum sempat keluar gudang, datang dua satpam yang berjaga, karena dicurigai terlibat kasus ini, kedua satpam tadi dilumpuhkan Arthur.
                Pagi harinya tepatnya pukul 8 setelah upacara terjadilah penyerbuan polisi besar besaran. Semua guru diamankan termasuk yang ada di gudang rahasia, barang bukti diangkut polisi bersenjata lengkap.bahkan wartawan meliput penyerbuat itu, ternyata oleh polisi, sekolah ini di curigai sebagai markas bandar narkoba dan pemasok senjata api ilegal, semua guru dan karyawan di amankan dan diinterogasi di kantor polisi. Tersangka sudah ditetapkan.
                Saat itu Azizah merasa kebingungan, dia bertanya tanya apa yang sedang terjadi di sekolahnya, terlihat seorang berjalan dengan senjata lengkap yang menakutkan, Azizah pun memberanikan diri bertanya.
               
“Maaf mas, ini ada apa ya?”
                “Enggak usah manggil mas.”
               
Ternyata orang itu adalah Arthur, Azizah dan siswa kaget dan semakin bingung. Belum sempat mengajukan pertanyaan lain, Arthur sudah pergi karena ada panggilan untuknya. Akhirnya setelah kejadian itu, sekolah diliburkan beberapa hari, setelah diungkap, kasus itupun ditutup dan beberapa guru ditangkap sebagai tersangka termasuk pak Imam dan pak Ali.
                Beberapa hari kegiatan sekolah kembali normal, tetapi Arthur sudah tidak pernah masuk, kecuali hari ini, dia datang pada jam pelajaran terakhir, yaitu jam wali kelasnya. Arthur meminta izin untuk menyampaikan salam perpisahan untuk teman temannya.
                “Teman teman, terima kasih ya sudah memberi hari hari yang menyenangkan, tapi sayang, aku rasa ini harus berakhir, jangan lupakan aku.” Jelas Arthur
                “Siapa kamu sebenarnya?” Tanya Azizah
                “Hmm, sebenarnya namaku bukan Arthur, aku dikirim kesini oleh kesatuan sebagai mata mata dan membantu mengungkap kasus yang sudah lama tak terpecahkan, sekolah ini dicurigai sebagai markas besar narkoba, sudah 2 agen pulang dalam kantong mayat, mereka menyadari markas ini terlalu berbahaya untuk diselidiki, saat melihat profilku yang masih 17 tahun aku dimasukan ke sini sebagai siswa baru. Dan berhasil mengungkap markas ini.”
                “Siapa namamu yang sebenarnya? Wahai sahabatku” Tanya Wahyu
                “Aku tidak bisa mengatakannya. Oh ya kasus penusukan Rehan itu dilakukan oleh pak Ali karena memergoki Rehan melihat transaksi narkoba.”
                “Ya Terimakasih ya, semua ini berkat kamu.” Kata Wahyu
                “Ya semua ini berkat kamu.” Teriak semua siswa
                “kamu membawa keajaiban ke sekolah ini.” Ujar Aisya
                “Juga teman yang baik.” Seru Wahyu
                “Terimakasih teman teman”
                “Apakah kita akan bertemu kembali.” Tanya Wahyu
“Sekarang kemana kamu akan pergi?” Tanya Azizah
                “Aku akan kembali ke kesatuan. meski kita mengejar mimpi yang berbeda, aku yakin kita bisa bertemu lagi, tergantung waktu dan takdir, selamat tingal teman temanku.”
                “Semoga kamu menemukan apa yang kamu cari.” Kata Azizah
                “Makasih Azizah, semoga kamu dan kalian semuanya menemukan apa yang kalian cari, termasuk kebahagiaan.” Ujar Arthur
Seluruh siswa maju dan memeluk  Arthur, perpisahan ini memang menyedihkan tapi inilah jalan terbaik. Arthur keluar ruangan dengan senyum di wajahnya  sama seperti semua teman kelasnya. HARI YANG INDAH UNTUK BERPISAH.
Kini Azizah, Hera, Aisya dan Wahyu menjadi sahabat dan meneruskan perjuangan Arthur membasmi bllying di lingkungan sekolah, bahkan ke sekolah lain. Bagi Azizah, meski belum sempat mengungkapkan perasaannya, tetapi Arthur tetap akan menjadi cinta pertamanya.
Di tempat lain Arthur sedang duduk di pinggir sungai dengan sahabat karibnya.
“Gimana nih, misi lo yang ini bro?”
“Ya gitu deh.”
“Yaelah elo ah, karir lo di militer makin cemerlang dong, lo bisa sering sering traktir gue.”
“Ambil enaknya aja kamu.”
“Biasa gue kok, eh ngomong ngomong di sana ceweknya cantik cantik gak? Emang gak ada yang naksir lo ya? Secara lo kan keren, meski lebih kerenan gue. Hahah.”
“Iya si cantik, tapi kamu tau kan kalo yang ada di hatiku tetap sama, Cuma Annisa seorang.”
“Meski kalian marahan sekarang ini?”
“Aku tetap akan sayang dia, saat ini dan selamanya.”
Tiba tiba seseorang yang cantik berjilbab dengan mata menawan menghampiri kedua sahabat itu.
“Apa semua itu benar Angga?”
“Eh Annisa, tentu aja beneran lah, aku sayangnya sama kamu.”
“Aku juga sayang kamu.” Balas Annisa

Mereka berdua pun saling berpandangan dengan senyum menghias wajah masing masing.
TAMAT