Pagi itu, dengan langkah sedikit
ragu anak perempuan itu berjalan memasuki gerbang sekolah, terlihat dari
matanya, dia sangat kebingungan karena memang ini hari pertamanya masuk
sekolah, dia adalah anak pindahan, namanya Azizah, terlihat cantik dan anggun
dengan jilbab yang membalut kepalanya dan rok panjang abu abu yang menandakan
dia adalah siswi sma tempatnya kelas 2 sma.
Azizah menyusuri lorong sekolah dengan sedikit gugup
karena semua siswa disana menatapnya, dia tidak sadar semua anak mengagumi
kecantikannya itu, seketika itulah langkahnya terhenti, beberapa anak perempuan
kelas 3 menghadangnya, dengan mata yang indah itu Azizah memandang ke arah
mereka berlima menandakan dia ingin lewat, tapi tidak tampak ada keinginan
memberi jalan untuk Azizah, dengan sengaja salah satu dari mereka menumpahkan
jus ke baju Azizah, Azizah kaget dan melangkah mundur seraya menyadari bahwa
mereka berniat membully dirinya.
“Uhhh, tumpah nih.”
Ejek salah satu siswi
“Lo siapa ya? Kok gue
baru lihat.” Timpal siswi lain
“Mungkin penjaga
kantin baru kali.”
“Maaf saya mau lewat,
permisi.” Pinta Azizah sopan
“Ehh ehh ehh, mau
kemana lo, disini aja dulu.”
Mereka berlima tertawa
puas melihat Azizah panik dan kebingungan. Seketika kepanikan Azizah mereda
ketika melihat beberapa siswa datang menghampirinya, tapi ternyata mereka akan
menambah apa yang dilakukan siswi tadi, terlihat salah satu anak membawa
botol hijau yang terlihat menjijikan,
ketakutan Azizah semakin menjadi ketika anak itu membuka botol dan mengeluarkan
bau yang menyangat, Azizah berusaha lari tetapi sudah dipegangi senior
seniornya, terlihat matanya yang indah itu mulai berlinang menandakan
permohonan belas kasihan mereka, bahkan semua siswa yang melihat itu tidak ada
yang menolong bahkan ada yang tertawa. Akhirnya cairan bau itu ditumpahkan
keatas kepala Azizah, seketika itupula air mata mengalir melalui pipinya. Para
senior itupun tertawa.
Dari arah Azizah datang terlihat seorang siswa berjalan
ke arah kerumunan itu, kebetulan atau tidak dia juga siswa baru karena terlihat
bajunya yang polos tanpa bet.
“Ada mangsa baru nih.”
Kata siswa senior
“Wah cocok nih yang
satu cewe yang satu cowo.” Cetus siswi senior
Siswa baru itu
berjalan santai menuju blokade senior yang siap membullynya. Langkahnya
terhenti ketika seorang senior menghadangnya.
“Eh buru buru amat,
mau kemana?”
“Bukan urusan kalian.”
Ujar siswa baru itu
“Wah songong banget
nih anak.”
“Eh, lo jangan sok
disini, disini gue dan temen temen gue yang berkuasa.” Kata siswa senior sambil
memegangi baju siswa baru itu.
“kalo kamu enggak
singkirin tangan kamu dalam 5 detik kamu akan...”
“Akan apa haaa!!!”
Tantang si senior
Lima detik pun lewat,
akhirnya siswa baru itu membanting si senior ke tanah, tanpa menunggu perintah
empat temannya langsung mengeroyok si siswa baru, tak lama kemudian keempatnya
terkapar di lantai, semua siswa menyaksikan kejadian itu kaget karena baru kali
ini ada yang berani sama mereka bersepuluh. Anak baru itu berjalan menghampiri
Azizah yang masih dipegangi oleh siswi senior dan menggandengnya meninggalkan
kerumunan, terlihat mata Azizah berbinar melihat wajah tampan yang baru
menyelamatkannya. Terasa ada keanehan dalam dirinya, hatinya terasa berdebar
ketika dekat dengan anak itu. Di dalam hatinya, dia bertanya tanya apakah ini
yang dinamakan cinta.
Akhir dari cerita pagi ini, setelah Azizah membersihkan
badan, dia masuk ke kelas yang sama dengan anak baru yang tadi
menyelamatkannya, ketika melihatnya hati Azizah kembali berdebar debar, kini
dia tau nama anak itu, Arthur, begitulah
dia dipanggil.
Singkat cerita, Azizah berteman dengan Aisyah dan Hera,teman
sekelasnya, mereka berdua menceritakan keanehan sekolah yang dianggap elite
tersebut, sekolah itu dikuasai 2 geng yang tadi membully Azizah, mereka adalah
Revina and the girls dan Rehan and the boys. Mereka anak anak pemilik saham di
sekolah ini, jadi para guru pun tak ada yang berani dengan mereka walau hanya
menegur.
Hal itu membuat Azizah prihatin karena pembullyan di
sekolah itu sangat nyata, bahkan di kelasnya ini yang dianggap diunggulkan pun
ada yang menjadi bahan bullying. Namanya Wahyu berambut keriting dan
berkacamata bundar, semua anak di kelas itu menjahuinya, terkecuali Arthur yang
dengan senang hati duduk disebelahnya, Azizah semakin yakin bahwa Arthurlah
orang yang dia tunggu selama ini.
Lain cerita berita geng the boys dipermalukan anak baru
menyebar cepat, nama Arthur pun dikenal banyak senior bahkan juniornya. 1
minggu berlalu, Azizah merasakan suasana senioritas dan pembullyan yang sangat
mengganggunya, tetapi itu tidak memudarkan semangat sekolahnya karena dia benar
benar jatuh cinta, meskipun Arthur cuek setengah mati, meski begitu mereka
semakin dekat, terutama dari tiga hari yang lalu ketika Azizah dibully tujuh
siswa senior, Azizah yang terlihat cantik dengan jilbabnya itu memang menjadi
idola baru di sekolah jadi banyak siswa yang menggodanya meski sedikit
keterlaluan. Hari itu Arthur terlibat perkelahian dengan tujuh siswa untuk
menyelamatkan Azizah, meski begitu mereka bukanlah tandingan Arthur.
Berita tersebar begitu cepat, Arthur pun menjadi idola
bagi siswi siswi sekolah. Semua berusaha mendekatinya karena pribadinya yang
cuek dan kalem serta wajah yang keren menjadi daya tariknya. Sore itu Arthur
sedang berjalan jalan di taman dengan Azizah, mereka menjadi teman dekat.
“Makasih ya udah
nyelametin aku dua kali.”
“Hmm”
“Kamu sekarang populer
lo Arthur, gimana sih rasanya?”
“Biasa aja.”
Meskipun Arthur acuh
tapi mereka terlihat sebagai pasangan yang cocok, beberapa hari hubungan mereka
semakin dekat layaknya sepasang kekasih, namun hal itu tidak berlangsung lama.
Suatu siang Azizah bertemu Aisyah di sebuah restoran dan Aisyah menyatakan
sesuatu yang membuat hidup Azizah berubah.
“Azizah, salah enggak kalau aku suka
Arthur?”
Kalimat itu sontak jadi petir di hati
Azizah, dengan wajah pucat dan senyum yang terpaksa karena yang ada di depannya
adalah sahabatnya, dia tidak ingin menyakiti sahabatnya sendiri.
“Kamu sakit Azizah?”
Tanya Aisyah
‘Enggak kok, gini ya
Aisyah semua orang berhak menyukai seseorang, jadi kamu gak perlu ragu, kejar
deh cinta kamu.” Azizah memberi semangat
“Makasih ya, kamu
emang sahabtku.”
Malam harinya Azizah
menerima pesan dari Hera dan pesan itu berisi pengakuan Hera yang menyukai
Arthur dan meminta bantuan Azizah untuk mendekatkan dirinya pada Arthur. Hal
itu membuat Azizah bingung dan sedih mengetahui kedua sahabatnya menyukai orang
yang disukainya.
Disisi lain hari Arthur di panggil ke ruang BP, didalam
sangat tertutup dan guru mengungkit masalah Arthur dengan tujuh anak kelas 3
yang dia pukuli. Awalnya Arthur merasa akan dihukum, akan tetapi dia dijadikan
agen oleh guru untuk menghentikan kasus bullying di sekolah itu karena Arthur
tidak takut pada senior seniornya, Arthur pun menyetujuinya dengan syarat dia
lakukan itu dengan caranya sendiri.
Malam harinya, Arthur menatap
langit yang tampak gelap tanpa cahaya bintang atau bulan, disinilah tempat dia
biasa merenung memikirkan masalahnya. Bukan di rumah tapi di atap gedung tinggi
di depan sekolahnya. Dia tidak mengatakan tempat tinggalnya pada siapapun,
setiap pulang sekolah Arthur selalu masuk ke gedung ini, entah apa yang
dilakukannya.
Sepertinya Arthur harus memulai
dari yang terkecil, yaitu dari kelasnya sendiri. Esok harinya Arthur ingin
sedikit memahami apa yang dirasakan Wahyu teman satu bangkunya yang sering
dibully. Dia sangat pendiam dan berbicara seperlunya, minder dan takut keluar
kelas, setiap hari Wahyu terus duduk merenung, bahkan prestasinya terus menurun.
Kejadian hari ini adalah
pelajaran kosong pada jam terakhir, semua siswa tampak bosan. Seorang siswa
merobek selembar kertas dari bukunya dan meremasnya kemudian melemparnya pada
Wahyu, seketika itu pula hampir seluruh anak melakukan hal yang sama, meski
diperlakukan begitu Wahyu tidak melawan, dia sudah biasa dibegitukan. Tiba tiba
teriakan keras menyuruh berhenti dari arah pintu terdengar, semua langsung
terdiam karena yang berteriak adalah Arthur yang biasanya diam dan acuh.
“KENAPA KALIAN SEMUA LAKUKAN ITU?!
Bukankan dia juga teman kalian? Kenapa kalian tidak melihat kearah matanya, dia
sudah tertekan selama ini, apa kalian
tidak kasihan atau merasa bersalah, jika kalian tidak ingin berteman dengannya
setidaknya jangan menyiksanya.” Bela Arthur
Semua terdiam dan tertunduk
seolah menyadari kesalahan mereka, Wahyu sontak kaget karena ada yang
membelanya, selama ini tidak ada yang membelanya. Akhirnya bel pulang berbunyi,
semua siswa meninggalkan kelas terkecuali Arthur dan Wahyu, setelah beberapa
pendekatan akhirnya Wahyu mau bercerita pada Arthur, dia bercerita bahwa dia
sudah mendapat perlakuan itu sejak smp bahkan bukan hanya di sekolah di
rumahpun dia tidak dianggap oleh keluarganya, kakak perempuannya yang cantik
dan pintar membuat orang tuanya pilih kasih. Tidak ada orang di dunia ini yang
memperdulikannya. Tapi hari ini seseorang memperhatikannya, Arthur membelanya
dan sejak detik itu mereka menjadi teman yang belum pernah didapatkan Wahyu
selama ini.
Jam menunjukan pukul 3, Wahyu
sudah bercerita selama 15 menit, merekapun berjalan keluar hingga di suatu
kelas mereka di cegat oleh geng the boys. Tampaknya Wahyu tidak hanya di bully
di teman sekelas namun juga seniornya. Arthur langsung bertindak dan terjadilah
perkelahian 1 lawan 5 orang. Tidak seperti sebelumnya hari ini Arthur tampak
sadis hingga 5 orang lawanya babak belur dan 3 orang tidak sadarkan diri.
Kejadian ini membuat satu ambulan dan satu mobil polisi didatangkan ke sekolah,
tidak banyak orang ada di sekolah. Wahyu dan Arthur pun dibawa ke kantor polisi
sementara the boys dibawa ke rumah sakit.
Dilain tempat Azizah mendapat kabar
bahwa Arthur dibawa polisi langsung menuju kantor polisi tentu saja Aisya dan
Hera ikut, Azizah sangat tergesa gesa ketika mengemudi, terlihat jelas wajah
paniknya, Azizah adalah orang yang paling khawatir dengan keadaan Arthur.
Sampai disana terlihat Arthur duduk sendiri di ruang tunggu karena Wahyu sudah
boleh pulang, mereka pun menghampiri Arthur dan bertanya apa yang terjadi.
Setelah menceritakan kejadian sebenarnya datanglah seorang pria berjas yang
misterius yang masuk ke ruang polisi. Setelah beberapa menit orang misterius
keluar, dia mengajak bicara Arthur empat mata lalu meningalkan Arthur, orang
itu benar benar misterius.
“Eh
siapa sih tuh?” Tanya Hera
“Ayah
kamu ya?” Sambung Aisya
“Bukan.”
Azizah hanya bingung tanpa berkata apa apa. Arthur pun
diizinkan pulang tanpa hukuman, Azizah pun memberi tumpangan untuk Arthur.
Beberapa menit berkendara yang dihiasi sunyi, tiba tiba Arthur meminta
diturunkan di sisi jalan, Azizah dan dua temannya kebingungan, akhirnya mereka
berhenti di jalan yang gelap. Setelah mengucap terimakasih, Arthur menghilang
dalam gelap. Di dalam mobil yang tadi sunyi sekarang jadi ramai karena ocehan
Hera dan Aisyah.
“Arthur
itu keren banget ya, udah kece, pinter, jago berantem lagi.” Cetus Hera
“Iya
ya, ada aja aku punya cowo kaya dia.” Lanjut Aisya
Azizah hanya termenung
mendengar kedua sahabatnya yang menyanjung Arthur, baginya Arthur adalah cinta
pertama karena Azizah belum pernah jatuh cinta sebelum ini. Akhirnya semua
orang sudah kembali ke rumah, di kamarnya Azizah menghubungi Arthur untuk
menanyakan kabar, tanpa dirasa mereka sudah bicara panjang lebar selama 1 jam.
Arthur pun menutup pembicaraan dengan alasan sudah malam dengan mengatakan
selamat tidur. Hati Azizah pun berbunga bunga, wajahnya yang cantik semakin
cantik karena dihias senyum yang beberapa hari ini tidak nampak di wajahnya.
Dilain
kamar, Hera merencanakan untuk menembak Arthut besok sore setelah sekolah, dia
membuat surat yang berisi ajakan bertemu di taman, tak lupa Hera memberitahu
rencananya ini ke Azizah, sontak hati Azizah yang tadi berbunga kini kembali
sedih dengan senyum palsunya dia memberi semangat ke Hera seolah mendukung Hera
padahal di dalam hatinya merasa sangat sakit.
Esok harinya Hera melaksanakan niatnya
dengan menaruh sepucuk surat di meja Arthur, pada saat itu Arthur sedang di
ruang BK dan mendapat laporan bahwa tingkat bullying di sekolah sudah menurun
drastis karena insiden geng the boys. Bagi Azizah waktu berjalan sangat cepat
hari ini, dia memendam sesak yang mendalam terlebih dia baru saja menerima
pesan dari Hera untuk datang ke taman sekolah sekarang, dengan berat hati
Azizah melangkah perlahan keluar kelas menuju taman.
Di taman sudah ada beberapa siswa
dan tentu saja Hera yang sedang gugup, datanglah Aisyah yang tidak tau apa apa
bertanya pada Azizah apa yang terjadi, sebelum pertanyaan itu sempat terjawab
orang yang ditunggu akhirnya datang. Arthur sedikit kebingungan ketika melihat ada
Hera disana.
“Akhirnya lo dateng
juga.”
“Jadi
yang kirim surat itu kamu?”
“Ya,
disini gue mau ungkapin perasaan gue, gue..gue sayang sama lo Arthur.”
Dan setelah kata itu terucap Aisyah langsung menangis dan pergi meninggalkan taman, tampak muka Hera kaget. Hera tetap meminta jawaban dari Arthur tanpa peduli Aisyah, akhirnya dia mendapat jawaban yang sangat pahit.
Dan setelah kata itu terucap Aisyah langsung menangis dan pergi meninggalkan taman, tampak muka Hera kaget. Hera tetap meminta jawaban dari Arthur tanpa peduli Aisyah, akhirnya dia mendapat jawaban yang sangat pahit.
“Maaf
Hera, udah ada seseorang di hati aku, kita temenan aja deh.”
Sontak
Hera dan Azizah kaget, Hera segera menatap Azizah dengan tajam seraya menyadari
apa yang sebenarnya terjadi.
“Aku
kecewa sama kamu Azizah!” Kata yang terlontar dari Hera
Seketika Hera pergi
dengan berlari sambil meneteskan air matanya. Azizah hanya bisa diam dan
matanya mulai berbinar, Dia duduk di bangku taman itu sambil menangis, semua
orang sudah pergi kecuali Arthur yang masih berdiri disana. Arthur duduk
disamping Azizah sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi Azizah.
“Kenapa kamu
menangis?”
“Aku
sudah melukai kedua sahabatku. Kenapa kamu harus katakan itu?”
“Katakan apa? Aku
memang punya orang yang spesial yang jauh disana, memang sih sebelum aku pergi,
kami sempat bertengkar hebat, tapi suatu saat nanti aku akan kembali padanya.”
Seketika itu pula
Azizah menyadari kalau ini semua hanya salah paham dan dia segera berlari untuk
mencari Hera, namun Hera tetap marah tanpa mau nendengarkan penjelasan Azizah.
Mereka sudah tidak berbicara berminggu minggu, dan beberapa hari ini ada kabar
kalau Hera masuk geng the girls. Mereka aktif membully, mungkin karena saat ini
Arthur jarang masuk sekolah dan menghilang, kinerja Arthur juga mulai
dipertanyakan para guru. Sementara itu Aisya memendam amarah dan kecewa pada
kedua sahabatnya terutama pada Azizah, sedangkan Azizah sendiri kini menjadi
target pembullyan the girls, sudah banyak pelecehan yang diterimannya beberapa
hari ini, juga dengan Wahyu dia yang malah lebih buruk lagi, tak ada yang membelanya
hingga dia rentan sekali menjadi korban bullying.
Beberapa
hari belakangan ini Azizah selalu di hantui ketakutan pada the girls, mungkin
inilah pembullyan paling buruk bagi Azizah, meskipun masih pagi Azizah ingin ke
toilet, setelah menutup pintu toilet Azizah mendengar suara dari luar, dia
sudah familiar dengan suara itu, Azizah mengira akan terjadi sesuatu yang buruk
padanya, tetapi suara itu perlahan menjauh, sepertinya dia aman untuk kali ini.
Azizah membuka pintu toilet dan ternyata terkunci, dia sadar itu ulah the
girls. Meski sudah berteriak hingga lemas, tidak ada yang datang menolongnya.
Dilain tempat beda pembully beda
penyiksaan, kata yang cocok untuk menggambarkan kejadian yang menimpa Wahyu.
Meski sudah menunggu sampai sore, dia tetap bertemu geng the boys, Wahyu dibawa
ke kelas yang sudah kosong, karena Wahyu berusaha melawan, dia dihajar sampai
babak belur oleh the boys dan ditingal begitu saja.
Wahyu pun pulang jam 7 malam
dengan luka lebam di sekujur tubuhnya, sampai dirumah dia malah dimarahi
ayahnya karena pulang telat dan dituduh ikut tawuran, ayah Wahyu tidak mau
mendengar penjelasan Wahyu dan akhirnya Wahyu diusir dari rumah, hari ini adalah
hari yang kelam bagi Wahyu.
Pagi harinya Azizah ditemukan
tak sadarkan diri di toilet, kegiatan belajar dihentikan, ambulan dan polisi
dipanggil, akhirnya Azizah dibawa ke ke rumah sakit dan the girls sebagai tersangka
dibawa ke kantor polisi. Tiga hari kemudian semua anggota the girls pindah
karena malu terkecuali Hera yang memang tidak terlibat kasus itu.
Beberapa hari setelah kejadian
itu, berita buruk kembali melanda sekolah, Rehan si pimpinan the boys ditemukan
tergeletak dirumahnya dan terdapat luka tusukan pisau di perutnya, nyawanya masih bisa ditolong meski sedang
kritis dan mengalami koma, kasus tetap dilanjutkan, tersangka utama adalah
Wahyu, dia di panggil ke ruang BK, disana dia di interogasi dan ayahnya juga
datang memaki makinya sebagai nanak tak berguna.
“Apa
benar kamu yang melakukannya? Jawab yang jujur.” Bentak pak Ali
“Bukan
saya pak.”
“Lalu
kenapa ditemukan pisau di tas kamu ha??” Pak Ali semakin membentak
“Ayah
kecewa sama kamu Wahyu”
“Cepat
akui saja Wahyu!! Biar urusan ini segera selesai.”
Wahyu
pun berdiri dan ikut membentak.
“KENAPA
BAPAK MEMOJOKAN SAYA TERUS, APA KARENA DIA ANAK PEMILIK SEKOLAH??!!!”
Tiba
tiba tamparan mendarat di pipi Wahyu, ayahnyalah yang menamparnya.
“SIAPA
YANG MENGAJARKAN KAMU BERBICARA SEPERTI ITU??!” Bentak ayah
“Kenapa
kalian sangat membenciku? Apa salahku pada kalian?” Kata Whyu sambil tertunduk
Wahyu pun segera
meninggalkan ruangan dengan berlari, beberapa saat kemudian Wahyu terlihat
berdiri diatas atap lantai 3, semua siswa langsung melihatnya dari bawah
termasuk ayah ibu dan kakak Wahyu. Wahyu memejamkan matanya dan tersenyum
sinis.
“kalau begini saja
banyak yang memperhatikan, APA INI YANG KALIAN MAU?”
“Kenapa
kalian semua begitu membenciku? Salah apa aku? Semenyebalkan itukah aku sampai
kalian selalu menindasku, apakah setelah aku tidak ada kalian akan menjadi
lebih bahagia? Aku hanya ingin kehidupan seperti orang lain, apakah itu hal
yang mustahil?”
“Aku
hanya ingin minta maaf pada kalian. Teman sekelasku, maaf bila aku menyebalkan,
maaf bila aku membuat suasana kelas menjadi buruk, bukan maksudku seperti itu.
Untuk bapak ibu guru, pak bu maaf saya sudah menjadi siswa yang buruk, selalu
membuat masalah, saya hanya ingin kalian menerimaku sebagai siswa, terimakasih
untuk semua jasa kalian selama ini dan soal pisau, itu pisau untuk motong buah
pak, saya sekarang magang jadi tukang buah, saya gak tau harus gimana setelah
diusir ayah saya. Untuk ayah ibu yang saya cintai, maaf Wahyu sudah jadi anak
bandel, anak yang tidak bisa membangkan orang tua, hanya satu permintaan Wahyu,
anggaplah Wahyu sebagai anak kalian, Wahyu sudah sangat bahagia, meski itu
tidak mungkin, Wahyu tetap sayang ayah dan ibu, terimakasih. Dan untuk kakak,
kak maaf adek udah jadi adek bandel yang suka ganggu kakak, adek hanya ingin
kakak mau bicara sama adek, adek sayang kok sama kakak meski kakak gak angep
adek ada, adek sayang kak. Selamat tinggal semuannya.”
Terhias senyum di
wajah Wahyu yang dipadu aliran air matanya, begitu juga semua orang yang ada di
bawah, terutama keluarga Wahyu yang sadar akan kesalahan mereka pada Wahyu.
Setelah Wahyu siap terjun, tiba
tiba datanglah Arthur yang mencegahnya, saat pandangan Wahyu teralih ke Arthur,
dibawah sudah bersiap pemadam kebakaran dengan trampolin untuk menangkap Wahyu,
ketika Wahyu lengah Arthur berlari kearahnya, mereka berdua terjun dari lantai
3 tepat ke atas trampolin tadi, sial bagi Arthur yang harus terlempar dari
trampolin dan lengannya patah sedangkan Wahyu tidak sadarkan diri karena dibius
Arthur saat jatuh tadi. Mereka dibawa ke rumah sakit yang sama.
Azizah, Aisyah dan Hera langsung
berangkat ke rumah sakit menjenguk Arthur. Mereka berlari merewati lorong rumah
sakit, di sana ternyata ada Wahyu yang menghadang mereka,
“Kalian
tidak boleh masuk sebelum berbaikan satu sama lain, itu pesan Wahyu tadi.”
Setelah
saling bertatapan, mereka mengakui kesalahan masing masing dan saling meminta
maaf.
“Maafin
gue ya Zizah, gue udah jahat banget sama lo”
“Iya
maafin aku juga ya, aku udah salah benci sama sahabat aku sendiri.” Kata Aisya
“Iya,
aku juga minta maaf kalau ada salah sama kalian, sebenarnya seseorang yang
dimaksud Arthur itu bukan aku.”
Mereka pun saling
berpelukan dan masuk ke ruangan Arthur dirawat, terhias senyum dari mereka ber
3 dan juga Wahyu yang merasakan hangatnya pertemanan.
“Mereka udah baikan?”
Tanya Arthur yang masih terbaring.
“Tanya
aja ama mereka.”
“Udah
kok Arthur.” Jawab mereka serentak
Akhir bahagia bagi
mereka ber 5, karena mereka menjadi sahabat bukan lewat kata tapi lewat
pengalaman. Tidak lama kemudian seluruh teman kelas Arthur datang membesuknya.
Satu hal yang aneh, dimana keluarga Arthur.
Beberapa minggu kemudian sekolah
sudah damai tanpa Ada pembullyan lagi. Tapi tampaknya Arthur akhir akhir ini
sering pulang larut malam dan jarang kumpul bareng keempat sahabatnya.
Disisi Arthur dia sudah mendapat
kabar kalau waktunya sudah tidak lama lagi, dia harus segera menyelesaikan
tugasnya. Malam harinya persiapan sudah dilakukan Arthur, informasi sudah
didapat, rencana sudah disusun, jam menunjukan pukul 12 malam. Arthur berangkat
keluar gedung menuju sekolahnya, dengan jaket tebal, masker tengkorak dan tas
besar, apa yang akan dilakukan Arthur. Bukannya lewat gerbang, Arthur malah
lewat belakang dan masuk secara diam diam ke sekolah. Apa yang akan di lakukan
Arthur di sekolah larut malam begini.
Arthur membuka tasnya yang
berisi sub-machine-gun MP5 dengan segala aksesoris yang terpasang, bebrapa
magasin dan sebuah pistol. Apa yang akan dia lakukan dengan senjata itu. Arthur
masuk ke sebuah gudang besar di belakang sekolah yang dianggap berhantu dan
tidak pernah dibuka apalagi dipakai.
Setelah berhasil masuk secara
diam diam, Arthur menyelidiki setiap bagian gudang, tetapi tidak menemukan
apapun. Terdengar suara di luar menuju arah gudang, segeralah Arthur mematikan
senter lalu bersembunyi. Dua orang membuka pintu gudang, mereka masuk sambil
berbincang tentang pengiriman narkoba, Arthur yang seketika mengenali suara
itu, tetapi dia harus menunggu, tak lama kemudian salah satu orang menyalakan
lampu dan yang lain membuka pintu rahasia, Arthur langsung bertindak dengan mencoba
melumpuhkan mereka ber 2. Sedikit perkelahian terjadi dan akhirnya satu orang
pingsan dan di ikat sambil terbaring di tanah dan yang satunya masih sadar dan
di ikat di kursi sebagai bahan interogasi. Ternyata mereka adalah pak Imam dan
Pak Ali, guru sma itu. Setelah merasa keadaan aman, Arthur melanjutkan
penyelidikan kedalam ruang rahasia, beberapa puluh meter dari pintu rahasia
terdapatgudang penyimpanan barang barang yang membuat Arthur kaget. Timbunan
narkoba beberapa ratus kilo dan puluhan senjata api jenis senapan serbu. Akhirnya Arthur pun mengambil gambar barang bukti dan
menghubungi kepala polisi kota itu. Sebelum sempat keluar gudang, datang dua
satpam yang berjaga, karena dicurigai terlibat kasus ini, kedua satpam tadi
dilumpuhkan Arthur.
Pagi harinya tepatnya pukul 8 setelah
upacara terjadilah penyerbuan polisi besar besaran. Semua guru diamankan
termasuk yang ada di gudang rahasia, barang bukti diangkut polisi bersenjata
lengkap.bahkan wartawan meliput penyerbuat itu, ternyata oleh polisi, sekolah
ini di curigai sebagai markas bandar narkoba dan pemasok senjata api ilegal,
semua guru dan karyawan di amankan dan diinterogasi di kantor polisi. Tersangka
sudah ditetapkan.
Saat itu Azizah merasa
kebingungan, dia bertanya tanya apa yang sedang terjadi di sekolahnya, terlihat
seorang berjalan dengan senjata lengkap yang menakutkan, Azizah pun
memberanikan diri bertanya.
“Maaf mas, ini ada apa
ya?”
“Enggak
usah manggil mas.”
Ternyata orang itu adalah
Arthur, Azizah dan siswa kaget dan semakin bingung. Belum sempat mengajukan
pertanyaan lain, Arthur sudah pergi karena ada panggilan untuknya. Akhirnya
setelah kejadian itu, sekolah diliburkan beberapa hari, setelah diungkap, kasus
itupun ditutup dan beberapa guru ditangkap sebagai tersangka termasuk pak Imam
dan pak Ali.
Beberapa
hari kegiatan sekolah kembali normal, tetapi Arthur sudah tidak pernah masuk,
kecuali hari ini, dia datang pada jam pelajaran terakhir, yaitu jam wali
kelasnya. Arthur meminta izin untuk menyampaikan salam perpisahan untuk teman
temannya.
“Teman
teman, terima kasih ya sudah memberi hari hari yang menyenangkan, tapi sayang,
aku rasa ini harus berakhir, jangan lupakan aku.” Jelas Arthur
“Siapa
kamu sebenarnya?” Tanya Azizah
“Hmm,
sebenarnya namaku bukan Arthur, aku dikirim kesini oleh kesatuan sebagai mata
mata dan membantu mengungkap kasus yang sudah lama tak terpecahkan, sekolah ini
dicurigai sebagai markas besar narkoba, sudah 2 agen pulang dalam kantong
mayat, mereka menyadari markas ini terlalu berbahaya untuk diselidiki, saat
melihat profilku yang masih 17 tahun aku dimasukan ke sini sebagai siswa baru.
Dan berhasil mengungkap markas ini.”
“Siapa
namamu yang sebenarnya? Wahai sahabatku” Tanya Wahyu
“Aku
tidak bisa mengatakannya. Oh ya kasus penusukan Rehan itu dilakukan oleh pak
Ali karena memergoki Rehan melihat transaksi narkoba.”
“Ya
Terimakasih ya, semua ini berkat kamu.” Kata Wahyu
“Ya
semua ini berkat kamu.” Teriak semua siswa
“kamu
membawa keajaiban ke sekolah ini.” Ujar Aisya
“Juga
teman yang baik.” Seru Wahyu
“Terimakasih
teman teman”
“Apakah
kita akan bertemu kembali.” Tanya Wahyu
“Sekarang kemana kamu
akan pergi?” Tanya Azizah
“Aku
akan kembali ke kesatuan. meski kita mengejar mimpi yang berbeda, aku yakin
kita bisa bertemu lagi, tergantung waktu dan takdir, selamat tingal teman
temanku.”
“Semoga
kamu menemukan apa yang kamu cari.” Kata Azizah
“Makasih
Azizah, semoga kamu dan kalian semuanya menemukan apa yang kalian cari,
termasuk kebahagiaan.” Ujar Arthur
Seluruh siswa maju dan memeluk Arthur, perpisahan ini memang menyedihkan
tapi inilah jalan terbaik. Arthur keluar ruangan dengan senyum di wajahnya sama seperti semua teman kelasnya. HARI YANG
INDAH UNTUK BERPISAH.
Kini Azizah, Hera, Aisya dan Wahyu menjadi sahabat dan
meneruskan perjuangan Arthur membasmi bllying di lingkungan sekolah, bahkan ke
sekolah lain. Bagi Azizah, meski belum sempat mengungkapkan perasaannya, tetapi
Arthur tetap akan menjadi cinta pertamanya.
Di tempat lain Arthur sedang duduk di pinggir sungai dengan
sahabat karibnya.
“Gimana nih, misi lo
yang ini bro?”
“Ya gitu deh.”
“Yaelah elo ah, karir
lo di militer makin cemerlang dong, lo bisa sering sering traktir gue.”
“Ambil enaknya aja
kamu.”
“Biasa gue kok, eh
ngomong ngomong di sana ceweknya cantik cantik gak? Emang gak ada yang naksir
lo ya? Secara lo kan keren, meski lebih kerenan gue. Hahah.”
“Iya si cantik, tapi
kamu tau kan kalo yang ada di hatiku tetap sama, Cuma Annisa seorang.”
“Meski kalian marahan
sekarang ini?”
“Aku tetap akan sayang
dia, saat ini dan selamanya.”
Tiba tiba seseorang
yang cantik berjilbab dengan mata menawan menghampiri kedua sahabat itu.
“Apa semua itu benar
Angga?”
“Eh Annisa, tentu aja
beneran lah, aku sayangnya sama kamu.”
“Aku juga sayang
kamu.” Balas Annisa
Mereka berdua pun saling berpandangan dengan senyum
menghias wajah masing masing.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar